Diary #5: Gimmick

11:07 AM

7 Maret 2015

Hari ini, satu hari setelah muker (yang sebenarnya gagal disebut muker) divisi ekstrakampus mulai menjalankan proker (yang lagi-lagi gagal disebut proker) Architectour. Ini adalah program yang baru ada di tahun 2015, yaitu jalan-jalan dalam konteks arsitektur. Sebenarnya program semacam ini sudah ada di tahun-tahun sebelumnya. Namun kami mencoba mengemas agar kegiatan semacam ini dapat dirasakan manfaatnya oleh lebih banyak massa-G. (Thanks to Raja, Mbsu, dan tim ekstrakampus!)

OMAH, sebuah perpustakaan umum di kantor RAW. source: http://omah-library.com/omah-history/OMAH, sebuah perpustakaan umum di kantor RAW. source: http://omah-library.com/omah-history/

Destinasi kali ini adalah kantor biro arsitektur RAW milik salah seorang kakak kami di G angkatan 2000, yaitu Realrich Sjarief, yang dahulu menjabat sebagai Sekretaris Jenderal di IMA-G. Kami amat beruntung dapat belajar langsung dari arsitek yang pernah bekerja dengan peraih Pritzker Prize, Norman Foster. Beruntungnya lagi, kakak yang satu ini amat pemurah karena mau menyambut kami yang berjumlah nyaris 50 dengan jamuan yang istimewa, baik dari segi ilmu maupun akomodasi. Terima kasih banyak, Kak Rich :)

***
Kak Rich saat menyampaikan materi di (calon) kediaman barunya.Kak Rich saat menyampaikan materi di (calon) kediaman barunya.

Selain menjalin silaturahmi, kami memang berniat banyak belajar dari Kak Rich. Kami sengaja request materi mengenai arsitektur dalam konteks urban dengan tujuan kami bisa menerapkannya dalam gerakan IMA-G satu tahun ke depan.

Kak Rich banyak memberikan wawasan baru, khususnya mengenai Urban Design. Ternyata kita bisa mengupas Urban Desain dari 3 aspek.



Ketiganya asing dan tak mudah kami pahami karena merupakan vocabularies yang jarang kami gunakan di dalam perkuliahan. Namun dari sini kami mendpatkan sudut pandang baru untuk mengupas permasalahan urban, khususnya di Kota Bandung. Layaknya manusia, saya rasa kita bisa mengupas permasalahan kota dari sudut pandang mind, body, and soul. Diskursus pun meluas ke aspek arsitektur, landscape design, infrastruktur, kepadatan penduduk, dan juga beberapa karya Kak Rich yang amat menarik.

Satu hal yang paling menggugah bagi saya adalah sebuah pertanyaan yang dilontarkan Kak Rich.

“Kalian tahu gimmick?” tanya beliau.

Satu-dua orang menanggapi dengan anggukan.

“Tadinya saya ingin membuat lantai 2 itu void hingga ke atas. Tapi karena langit-langitnya sudah tinggi rasanya hal tersebut menjadi tidak esensial,” ujar Kak Rich menjelaskan rumah barunya yang masih dalam proses konstruksi. Akhirnya hanya bagian tangga yang ia buat void.

Ia pun menjelaskan bahwa ketika suatu komponen dalam desain diletakkan begitu saja dan kehilangan esensinya, itulah yang disebut gimmick. Desain hanyalah menjadi kosmetik belaka yang tak punya nilai filosofis. Makna dari desain itu sendiri kemudian akan hilang dengan sendirinya.

gim-mick \’gi-mik\
: a method or trick thatis used to get people’s attention or to sell something

Di akhir proses desain, seringkali mahasiswa arsitektur mencomot judul-judul yang ear-catching dengan tujuan mengelabui dosen. Kita berusaha mengemas agar desain kita terkesan memiliki konsep yang dalam dan heroik. Pada kenyataannya itu hanya kemasan, metode jualan kepada dosen untuk menutupi proses berpikir yang asal-asalan.

Dalam berkemahasiswaan, tanpa disadari mungkin kita telah menerapkan hal yang sama. Jujur saya amat tertohok dengan pernyataan Kak Hilman bahwa visi ‘IMA-G Bergerak Bersama untuk Indonesia’ belum benar-benar tecermin dari program-program yang kami tawarkan. Entah kami yang belum mampu menularkan semangatnya, atau semangat itu belum benar-benar merasuk ke dalam jiwa kami. Sungguh, saya tak pernah berharap visi ini hanya menajdi gimmick belaka, bahan jualan yang kosong tanpa isi.

Tetap semangat ya mz & mb BP, pun juga massa-G :) Kita memang harus terus belajar untuk mengenal bangsa ini secara utuh. Pada akhirnya proses pembelajaran itulah yang akan memupuk gelisah dan mendorong kita untuk terus bergerak. Teruntuk mz&mb BP, sampai jumpa di rapat berikutnya untuk mengupas Indonesia lebih dalam. Yuhuuu~

***

Hari ini menjadi sebuah akhir minggu yang amat memuaskan. Jika boleh memakai judul di atas, maka saya merasa bahwa kebersamaan dan kekeluargaan yang ada di hari ini jauh dari kata gimmick. Ia bukan kemasan belaka. Saya jadi yakin dengan apa yang pernah diucapkan Umar bin Khattab r.a.,

Jangan engkau merasa bahwa engkau telah mengenal saudaramu dengan baik, jika engkau belum pernah melakukan safar/perjalanan bersama saudaramu tersebut, atau sebelum engkau pernah bermalam bersama saudaramu

Makan siang, berebut sate. Photo credit: Maya AndriniMakan siang, berebut sate. Photo credit: Maya Andrini

Jika bermalam sudah pernah kami lakukan, senang rasanya hari ini bisa mengenal adik-adik saya lebih dekat lewat sebuah perjalanan. Semoga senyum, tawa, canda yang ada di hari ini bisa terus melengkapi perjalanan kita di G selama satu tahun (atau tepatnya beberapa bulan) ke depan. Semoga kata kekeluargaan bukan menjadi judul saja, tetapi menjadi nilai yang melengkapi semangat kita untuk senantiasa menebar manfaat bagi bangsa ini.

Sampai jumpa di Architectour berikutnya!

You Might Also Like

0 comments

ayo komen disini :)

Popular Posts