Diary #7: Aksi, Prasangka, dan Mahasiswa

7:42 AM

Suasana aksi di depan istana negara. Foto diambil dari Ganeca Pos, oleh Andreas (HMTL)Suasana aksi di depan istana negara. Foto diambil dari Ganeca Pos, oleh Andreas (HMTL)

Tujuh hari terakhir waktu saya banyak dihabiskan oleh pembahasan ini: undangan dari Presiden RI untuk mahasiswa pada tanggal 18 Mei dan aksi nasional BEM SI pada tanggal 21 Mei.

17 Mei Rapat pimpinan KM-ITB membahas respon atas undangan ke Istana untuk berdialog secara langsung dengan Presiden Jokowi
18 Mei (Hampir saja rapim bersamaan dengan) Kunjungan Kabinet KM-ITB ke undangan Presiden
19 Mei Rapat pimpinan KM-ITB terkait aksi nasional BEM SI tanggal 21 Mei
20 Mei Persiapan aksi
21 Mei Berangkat aksi


Sebelum melanjutkan, ada baiknya teman-teman membaca terlebih dulu sebuah tulsian yang menarik. Salah seorang teman saya, Upi, sudah menuliskan apa yang kami jalani beberapa hari terakhir dengan cukup lengkap. Ini tautan tulisannya: http://muhammadluthfij.tumblr.com/post/119680228592/delapan-puluh-dua-aksi

17 Mei KM-ITB memutuskan untuk menerima undangan dari Presiden Jokowi untuk menyampaikan aspirasi dan tuntutan dengan dugaan baik: bahwa undangan tersebut adalah undangan tertutup.

18 Mei Presiden KM-ITB menerima undangan Presiden dan menyampaikan tuntutan-tuntutan. Tidak sesuai dengan dugaan baik massa KM-ITB, acara 'makan malam' bersama RI-1 hari itu dihadiri banyak media. Mungkin undangannya memang tertutup. Tapi acaranya sendiri bersifat terbuka karena setiap momen diabadikan dan disampaikan kepada publik. Beberapa tuntutan direspon secara langsung: dihapusnya pembatasan masa kuliah maksimal 5 tahun dan kasus HAM yang menimpa mahasiswa Trisakti di tahun 1998. Mahasiswa sepertinya memiliki dugaan baik, bahwa tuntutan itu memang akan ditindaklanjuti secara serius oleh pemerintah. Walaupun demikian, karena tuntutan BEM SI untuk berdialog secara terbuka dengan rakyat Indonesia tidak direspon, pada akhirnya aksi nasional tetap dipersiapkan.

19 Mei Rapat pimpinan di internal KM-ITB berjalan cukup alot: antara aksi dan tidak, antara ikut BEM SI atau hanya di bawah nama KM-ITB. Pada dasarnya saya meyakini bahwa konten (energi) yang dimiliki ITB harus tetap diperjuangkan sehingga pilihannya adalah aksi bersama BEM SI atau dengan nama KM-ITB; apapun bentuknya. Walaupun di IMA-G sendiri kami berdebat cukup panjang tentang bentuk ideal sebuah aksi mahasiswa. Pada akhirnya disepakatilah bahwa KM-ITB tetap turun aksi bersama BEM SI agar bisa konsisten menyampaikan hasil kajian energi, bersikap bersama mahasiswa lainnya dalam satu suara.

21 Mei adalah pertama kalinya ITB melancarkan aksi dalam jumlah di atas 60 orang dalam beberapa tahun terakhir; tanpa massa TPB. Hari itu pula pertama kalinya saya melihat mahasiswa turun ke jalan dalam jumlah yang banyak. Lagi-lagi mungkin mahasiswa masih menyimpan dugaan baik, bahwa aksi hari itu membuahkan hasil: Presiden Jokowi mau berdialog secara terbuka dengan rakyat Indonesia dan secara langsung merespon tuntutan-tuntutan. Namun ternyata Presiden Jokowi tidak berada di tempat. Sehingga mahasiswa (diwakili 50 PresBEM) hanya bisa berdialog dengan Mensesneg Pratikno dan Kepala Staf Kepresdidenan Luhut Panjaitan.

Hari itu bisa jadi mahasiswa terlalu larut dalam euforia. Banyak orasi yang rasanya amat jauh dari tuntutan yang diajukan oleh BEM SI --walaupun saya akhirnya paham betapa sulit mengontrol diri untuk berbicara dengan tepat sasaran ketika memegang mic di hadapan 2000 lebih massa aksi. Tidak sedikit yang menyerang Jokowi secara personal. Bukan mengkritik kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah. Padahal tuntutan yang disampaikan jelas: 1. Kejelasan/transparansi anggaran terkait harga BBM 2. Kedaulatan energi dengan mengambil alih Blok Mahakan dan Freeport.

Sekali lagi saya nyatakan, hari itu bisa jadi mahasiswa terlalu larut dalam euforia. Ketika pada akhirnya pemerintah yang diwakili Luhut Panjaitan menyatakan bahwa Jokowi akan melakukan dialog terbuka yang ditayangkan di seluruh channel TV pada tanggal 25 Mei, mahasiswa entah kenapa merasa puas dan lagi-lagi percaya dengan itikad baik tersebut. Bahkan sore itu Luhut Panjaitan dipersilakan dengan terhormat untuk naik ke mobil sound dan melantangkan 'Hidup Mahasiswa!'. Sore itu, saya terus menerus tidak lepas dari prasangka.

Luhut Panjaitan menyampaikan janji di hadapan seluruh massa aksi.  Foto diambil dari Ganeca Pos, oleh Andreas (HMTL)Luhut Panjaitan menyampaikan janji di hadapan seluruh massa aksi. Foto diambil dari Ganeca Pos, oleh Andreas (HMTL)

***
prasangka/pra·sang·ka/ n pendapat (anggapan) yg kurang baik mengenai sesuatu sebelum mengetahui (menyaksikan, menyelidiki) sendiri; syak: sebenarnya semuanya itu hanya berdasarkan -- , bukan kebenaran;

Seminggu ini, saya belajar banyak mengenai prasangka.

Kita terlalu sibuk memedulikan apa yang terjadi, namun seringkali kita lupa mengapa. Kita terlalu sering menilai dan menentukan sikap hanya bermodalkan pengetahuan kita tentang kulit, bukan tentang bijinya.

Untuk yang satu ini, saya rasa kita harus berhenti berprasangka. Jangan sampai kita menilai sebuah gerakan berhenti pada metodenya saja tanpa menilai latar belakangnya. Jika kita merasa apa yang diperjuangkan benar, bagi saya adalah sebuah keharusan untuk ikut memperjuangkannya. Apabila metodenya kurang tepat, jadi tanggung jawab kita pulalah untuk memperbaikinya. Tidak layaklah kita untuk sekadar menghakimi dan kemudian nyinyir di belakang. Maka sudah menjadi tanggung jawab setiap anggota KM-ITB untuk mencari tahu lebih banyak. Dan setiap pimpinan lembaga di KM-ITB pun memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan setiap isu bukan hanya untuk menjawab pertanyaan 'apa' dan 'bagaimana' tetapi juga 'mengapa'.

Saya pun belajar dari apa yang terjadi di tanggal 18, 21, dan bahkan kemarin, bahwa untuk menghadapi pemerintah Indonesia hari ini, saya tidak boleh lepas dari prasangka.

“Kami tadi sudah diskusi dengan teman-temanmu perwakilan BEM Mahasiswa di dalam, saya kira diskusi berjalan baik, alot, dan menurut saya teman-teman kalian itu punya pemikiran yang matang dan perlu diantisipasi,… maksud saya diapresiasi. Saya ingin mengatakan bahwa Presiden tadi sudah dikomunikasikan dengan bapak mensesneg akan bertemu dengan perwakilan mahasiswa nanti hasi senin (25/5), yang kedua kita atur lagi pertemuan nanti antara perwakilan mahasiswa dengan pemerintah yang diwakili beberapa staff presiden untuk mengkomunikasikan program-program yang kalian konsen bahwa itu tidak berpihak kepada rakyat banyak.” Luhut Panjaitan, 21 Mei 2015

Sabtu malam, 23 Mei 2015 tepat pukul 22.47, Staff Kepresidenan menghubungi Koordinator Pusat BEM Seluruh Indonesia terkait pembatalan yang mengatakan bahwa Presiden Jokowi tidak bisa menemui BEM SI hari senin mendatang. Informasi pembatalan ini juga diterima oleh rekan-rekan BEM SI di Universitas Gajah Mada (UGM) dari Teten Masduki (Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi) melalui pesan whatsapp yang berbunyi,

“Info dari Pak Pratikno, menurut Pak Luhut barusan: Senin jadwal Presiden tidak memungkinkan menerima mahasiswa. So, mahasiswa akan diterima di waktu lain.”

Selengkapnya ada di sini: http://bem-indonesia.com/lagi-lagi-pihak-istana-jokowi-berbohong/

Menurut saya, menyatakan #JokowiBohong adalah sebuah kebohongan karena yang berbohong adalah Luhut Panjaitan :p Mungkin kita saja yang terlalu polos dan tak mengenal pemerintah kita saat ini. Mungkin memang kita yang salah: kita lupa berprasangka.

***

Aksi dan seluruh rangkaian momen di satu minggu ke belakang pun menyisakan sejumlah tanya: apakah mahasiswa memang tak lagi memiliki bargaining position? Lantas seperti apakah bentuk gerakan mahasiswa yang ideal hari ini?

Hari ini kita masih kebingungan: apakah kita harus turun ke jalan? Seberapa efektifkah pengabdian masyarakat yang kita lakukan? Apakah kita memiliki comparative advantage dibandingkan dengan elemen lain di masyarakat? Apakah kita memiliki competitive advantage? Jika iya, seperti apa?

Kita belum bisa menjawab nilai lebih apa yang dimiliki mahasiswa dalam menyusun pergerakan. Hari ini kita masih kehilangan jati diri. Memang pada akhirnya ini tentang metode. Tapi ini adalah pertanyaan yang harus kita jawab bersama agar kita tak lagi sibuk berdebat mana yang benar dan salah hanya tentang kulitnya saja. Agar pada akhirnya kita bisa sepakat bergerak bersama untuk Indonesia.

Semoga lekas ada jawabnya.

***

Sepertinya saya harus menanggung dosa karena tidak konsisten dalam menulis. Sayang sekali momen syukwis Maret, kunjungan pertama ke Kampung Pulosari, Pemira KM-ITB, kadwil, berbagai rangkaian forum inisiasi dan sosialisasi; semuanya terlewat begitu saja tanpa sebuah proses kontemplasi. Semoga tulisan ini menjadi titik balik, agar ke depan tak ada lagi momen yang tak dihayati :)

You Might Also Like

0 comments

ayo komen disini :)

Popular Posts