Rumen; Bukan Pencernaan Sapi

11:52 PM

Ini kisah cinta, cinta monyet; walaupun pelakunya tolong jangan disamakan dengan monyet. Ini kisah cinta, cinta yang bertepuk sebelah tangan. Ini kisah cinta, cinta yang tak pernah terucap. Ini kisah cinta, cinta anak SMP labil. Ini kisah cinta, atau lawak? Silahkan disimak saja.


Rumen Rumenov Tomov.

Itu namanya, ia yang pertama kali gw temui di bandara di Lucknow, India, 2007. Perawakannya tinggi, seperti kebanyakan remaja Eropa; tidak seperti gw yang dari dulu ukuran vertikalnya tetap mungil bahkan sampai saat ini sekalipun. Wajahnya polos, apa lagi jika dibandingkan dengan kedua temannya yang bernama Borish dan Anton. Saat itu kami berkenalan, atau tepatnya saling dikenalkan oleh pembimbing kami masing-masing. Gw tertarik, sejak pertama kali bertemu. (Silahkan ditertawakan.)

Sedikit penjelasan, ia datang dari Bulgaria bersama 2 orang temannya dan 2 orang pembimbing; sementara gw datang dari Indonesia bersama Laila dan 2 orang lainnya dan 3 orang pembimbing. Kami adalah peserta dari kompetisi matematika yang sama di Lucknow, salah satu kota di India yang cukup banyak umat Islamnya.

Singkat cerita, kami menjalani hari-hari di India dengan rutinitas yang cukup unik; upacara di pagi hari yang sampai sekarang gw masih gak ngerti maksudnya apa, makan pagi-siang-malam yang kadang bikin eneg karena menunya gak cocok sama lidah Indonesia kami, dan serangga-serangga yang sering berseliweran hampir di setiap sudut ruangan. Di antara rutinitas itu ada saat-saat di mana gw selalu penasaran kalau melihat kawanan Bulgaria itu. Gw ingin officially kenalan, ngobrol sama salah satu dari mereka. Tapi gw gak pernah berani. Alhasil gw cuma berani melirik, curi-curi pandang a la remaja labil.

Sampai akhirnya di akhir lomba, gw dan Laila dapet medali emas; Rumen juga. Gw sangat menyesal ketika tahu seusai pengumuman itu mereka berlima langsung kembali ke Bulgaria. Gw bahkan tidak sempat mengobrol, menanyakan e-mail, atau sekedar mengucapkan "Congratulations!" atas prestasi dia dan timnya yang meraih posisi pertama. Gw hanya bisa menyesali sikap pengecut gw. Malam setelah pengumuman, gw dan Laila saling cerita tentang seseorang yang menarik perhatian kami selama lomba; gw cerita tentang Rumen, dan Laila tentang Richard Milante dari Philippines. Konyolnya, kami berdua sama-sama tidak ada yang berani bahkan untuk sekedar saling menanyakan nama; tapi ketika melihat foto mereka dijual (oleh bapak-bapak tukang foto yang suka ada di acara seperti perpisahan gitu; ngerti kan?) kami langsung dengan semangatnya membeli foto itu.

Gw pun akhirnya kembali ke Indonesia, masih dengan rasa penasaran yang sama. Dengan sedikit harapan, mungkin saja bisa bertemu lagi; entah kapan, di mana, atau bagaimana caranya.

Satu tahun pun berlalu, tahun 2008 gw berangkat ke Thailand dengan beberapa teman seperti Laila, Oki, dan Hilmi untuk ikut IWYMIC. Tidak seperti kebanyakan kompetisi internasional yang gw ikuti sebelumnya, lomba ini punya lebih banyak peserta; bahkan ada dari Jerman juga. Segera setelah kami tiba di sana, gw langsung mengecek participant guide book; mengecek nama-nama yang mungkin gw kenal. "Ah, gak ada dari Bulgaria," batin gw saat selesai membaca daftar peserta.

Saat makan malam di dining room hotel, tiba-tiba Tio yang sama-sama dari Indonesia menghampiri gw. "Tik, tadi gw lihat Rumen!" Gw yang mendengarnya pun langsung excited . Dan ternyata, memang ada dia! Tidak berubah, masih tinggi kurus, masih culun. Kali ini, sesudah selesai makan, tanpa ragu-ragu gw menghampiri dia yang duduk di sebelah guru perempuannya. Gw gak mau menyesal lagi.

"Hi, do you remember me? I joined WIZMIC too last year in India."

Gurunya bilang sepertinya dia inget. Tapi Rumen cuma tersenyum. Agak gondok juga sih.

"Can I have your e-mail address? Please write it here," pinta gw sambil menyodorkan notebook dan pulpen. Ia pun menuliskannya.

"Thank you."

Gw pun akhirnya pergi dan menghampiri teman-teman gw dengan bangga. Namun ternyata ada satu kebodohan yang gw sesali: gw lupa mengenalkan diri! Mungkin sampai saat ini dia hanya ingat gw sebagai anak Asia kurang kalsium yang SKSD. Menyedihkan.

Selama di sana, gw tidak juga banyak mengobrol dengan dia. Rasanya sungkan. Tim dari Bulgaria itu pun cenderung menutup diri, tidak mingle dengan anak-anak dari negara lain. Alhasil kalimat selanjutnya yang gw ucapkan ke dia hanyalah "Congratulations! You're great." dengan senyum lebar saat malam pengumuman. Karena lagi-lagi dia mendapat emas (kalau tidak salah). Dia menjawab "Thank you."
Rasanya saat itu gw senang sekali, rasa penasaran gw saat di India terbayar lunas hanya dengan ucapan simpel seperti itu. Konyol? Mungkin. Biarlah, toh saat itu gw memang masih SMP, masih labil.

Ada satu hal lagi yang mebuat gw penasaran: gw belum foto bersama dia. Tapi gw sendiri tidak tahu bagaimana caranya. Apalagi lomba sudah selesai dan kami tinggal satu hari lagi berada di Thailand. Hari terakhir itu kami habiskan untuk belanja berkeliling kota Chiang Mai.  Seusai belanja, kami makan siang di McD. Surprise! Rumen juga sedang makan siang di sana. Gw berkali-kali bilang ke yang lain: pengen foto bareng, gak berani bilangnya, gimana dong, ih pengen foto #sakali

Akhirnya dengan ditemani Laila dan salah satu orang tua adik kelas gw, gw pun menghampiri dia dan minta foto bareng bersama yang lainnya. Tapi di dalam foto itu akhirnya hanya ada kami berdua karena saat tompol kamera ditekan, Laila malah menyingkir dari sebelah gw. Bikin malu banget! Saat ini, gw bahkan gak tahu fotonya ada di mana.

Malamnya kami sudah ada di bandara untuk kembali ke tanah air. Gw jadi merasa sedikit sedih, karena mungkin di McD itu terakhir kalinya kami bisa bertemu. Saat di restoran bandara untuk makan malam, gw tiba-tiba menangis, entah hanya caper ke teman-teman yang lain atau beneran sedih :p Teman-teman gw yang lain malah jadi sibuk mengolok-olok gw. Di saat sedang heboh-hebohnya seperti itu tiba-tiba ada yang bilang "Tik, tuh ada Rumen!"

Gw jadi kesal, karena menurut gw itu sama sekali gak lucu. Tapi saat gw mendongak, ternyata dia dan teman-temannya memang sedang berjalan di luar restoran, tersenyum ke arah kami. Tiba-tiba gw merasa sangat senang dan sangat konyol pada saat yang bersamaan.

Akhirnya gw pulang, membawa cerita cinta; hahaha. Oke, itu bukan cerita cinta, sama sekali bukan. Tapi lucu kan? Wkwkwkwk. Gw klarifikasi, gw mungkin tidak benar-benar suka dia saat itu. Gw hanya penasaran. Dan saat ini pun gw menulisnya bukan karena CLBK. Tapi, gw sedang kangen masa-masa ikut lomba; dan jadi ingat ini. Hehehe

Sampai jumpa lagi, Rumen Rumenov Tomov! Entah kapan, di mana, ataupun bagaimana caranya.

You Might Also Like

4 comments

  1. Wkwkwk, seru parah ini! Dasar abg labil *ga nyadar diri*

    Gelangnya masih ada gak? :p

    ReplyDelete
  2. Masih deh la, kayanya. Gak tahu di mana tapi. Ternyata tidak seberharga itu :p

    ReplyDelete
  3. tik !
    kaya ...... sinetron hahaha
    dasar abg labil yah, gitu doang nangis
    *mengingat kejadian abis persiapan perpisahan rabam, ingat?*
    hahahaha

    ReplyDelete
  4. Aduh nov gw gak ngarang supaya mirip sinetron kok ini beneran kejadian hahaha
    Hahaha iyalah wajar nov masa peralihan menuju dewasa :)

    ReplyDelete

ayo komen disini :)

Popular Posts