Catatan G30S/KPK: Perspektif yang Lain

10:56 AM

Kamis 26/09/2013
Jika Ketua Himpunan saya sedang duduk di depan seketariat dan saya ikut duduk di sana, ia pasti bertanya, “Sedang ada isu apa?” Hari itu pun ia melontarkan pertanyaan yang sama. Saya diam, tidak tahu apa-apa karena cukup lama mendekam di studio. Dia kemudian menyebut-nyebut Kajian Century. Saya hanya bertanya, “Emang ada apa?”
Percakapan selesai sudah setelah ia menjelaskan. Saya memang tidak begitu mengerti.

 Jumat 27/09/2013

Saya tahu ada kajian tentang skandal Century di dalam sekretariat KM-ITB. Namun saya memilih untuk stay di luar ruangan karena ada kumpul Kementerian saya di Kabinet, Kementerian Kaderisasi. Sesekali saya menengok ke 'forum sebelah' dan rasanya miris. Saya hanya melihat beberapa warna jaket himpunan. Sekre KM yang sesempit itu pun tidak sepenuhnya terisi. Saya kembali menengok ke dalam untuk mencari jaket himpunan berwarna biru --Ah, bagaimana caranya menjelaskan biru-yang-itu?. Saya tidak menemukannya.

Sabtu 28/09/2013

Seharian saya berada di luar kampus, janjian dengan teman di pagi hari, menghadiri Seminar 203 Tahun Kota Bandung di Museum KAA dan sorenya langsung ke Kebon Bibit bertemu adik-adik bimbingan SKHOLE-ITB Mengajar. Saya tidak tahu-menahu mengenai kelanjutan Kajian Century malam sebelumnya.
Seusai mengajar di SKHOLE saya langsung ke kampus karena ada acara himpunan.

"Hai, Kak," ujar saya pada Kabid Eksternal IMA-G. Saya pun  menanyakan partisipasi IMA-G dalam rencana Aksi G30S/KPK yang digagas Kementerian Sospol Kabinet.

"Iya, emang gak ada yang ikut kajian kemarin. Lo dateng?" Saya memberikan gelengan kepala sebagai jawaban. "Abis dadakan banget. Kajiannya juga kita gak ngerti. Lagian PJ Kajiannya juga lagi sibuk." Ia menambahkan lagi --sambil 'menyepet' seorang anggota IMA-G yang kerap dibicarakan mencalonkan diri sebagai Kahim.

Seseorang dengan wajah sumringah hadir, senator himpunan saya. Ia menghampiri Sang Kahim. "Eh, lagi audiensi nih. Gue harus bilang apa?" tanyanya. Akhirnya berdasarkan instruksi Kahim diputuskanlah IMA-G menolak aksi tersebut. Kelanjutan audiensinya? Lagi-lagi saya tidak tahu.

Tapi tentu saja saya kesal dengan kejadian itu. Saya rasa alasan penolakan IMA-G juga menjadi tidak substansial karena bukan kontennya yang dipermasalahkan. Saya langsung menghubungi teman saya yang memang ikut kajian dan aktif di Kementerian Sospol. Dia bisa membantu menjelaskan kepada saya mengapa kita harus aksi. Tapi saya belum cukup paham untuk bisa menjelaskannya kepada orang lain. Saya minta link bahan bacaan, tapi ia juga tak punya. Kebingungan saya memuncak.

Minggu 29/09/2013

Pagi menjelang siang saya mendapatkan informasi kalau Kabinet jadi berangkat aksi dalam G30S/KPK. Hari itu saya bersama Maryam (PL'12) menemui Kak Tando, Menteri ... (memalukan ya, saya lupa. Intinya kominfo) di Kabinet. Saya misah-misuh tentang tidak menyebarnya informasi mengenai aksi G30S/KPK ini. Dari ratusan anak arsitektur, saya bisa mengatakan bahwa yang tahu hanya beberapa orang, sangat mungkin kurang dari 10. Saya menceritakan tentang bagaimana di UI Kak Faldo Maldini dan Kak Yassir Mukhtar bisa memanfaatkan media dengan sedemikian baiknya untuk menyampaikan gagasan dan mengajak massa. Saya menyampaikan bahwa media itu penting dan punya peran besar, bukan sekadar supporting system di Kabinet KM-ITB. Apa yang kita sampaikan sama pentingnya dengan bagaimana cara kita menyampaikannya. Saya juga menyampaikan bahwa sebagai anak unit media kita juga mau membantu. Di saat yang sama saya merasa ragu, saya juga belum begitu memahami masalah media --sebutlah saya newbie- juga tidak berpengalaman. Akan tetapi kegelisahan saya cukup besar untuk bisa 'memaksa' saya melakukan itu.

Sore harinya saya duduk di seberang sekre KM dan memandang ke dalam. Saya tahu bahwa sejak pukul 15.00 WIB ada kumpul Kementerian Sospol.Tapi saya hanya diam di luar, enggan beranjak karena di dalam sana yang saya tahu hanya ada anak-anak Kementerian Sospol dan saya memang ada janji dengan teman satu kementerian.
18.45 WIB akhirnya saya masuk ke dalam sekre bersama Obe (PL'12) dan Maryam. Kami bertemu Kadep Kajian Sospol dan Kadep Pergerakan Sospol. Kak Okie dan Kak Irfan dari deputi kajian menjelaskan kepada kami sejarah singkat, urgensi, konten, dan sikap yang dibawa. Saya setuju dengan konten yang dibawa. Saya juga percaya, mengatakan kebenaran di depan pemerintah yang zalim adalah jihad yang paling utama. Kak Faisal sebagai penanggung jawab aksi kemudian mencatat kontak kami. Saya tercatat sebagai pendaftar ke-11, di bawah nama Maryam dan Obe.

Itu sebuah pilihan berarti bagi seorang anak arsitektur di H-5 pengumpulan. Ditambah lagi,  bisa jadi itu aksi pertama saya (sebagai mahasiswa). Saya sadar bahwa pilihan itu belum pasti. Meskipun izin dari Kongres sudah turun (walaupun saya tidak tahu bentuk rincinya), izin dari Papa belum turun.

Senin 30/09/2013

Papa akhirnya menjawab ‘Boleh.’ ketika malam sudah cukup larut. Saya fix berangkat. Walaupun tidak tidur malam harinya dengan niat menyelesaikan tugas, saya sangat bersemangat. Namun satu per satu alasan melunturkan semangat saya.

Telah berpulang ke Rahmatullah ayahanda Shella Maulina Arifa….

Itu yang tertulis di layar HP Maryam pada pukul 07.15 WIB, lewat 45 menit dari waktu kami seharusnya berkumpul. Kami galau. Maryam hampir pasti tidak berangkat mengingat Shella adalah teman sekamarnya.

07.30 WIB kami mulai dikumpulkan untuk briefing. Di sana Kabinet menyampaikan bahwa pengatasnamaan KM-ITB tidak bisa dilakukan dan dengan demikian atribut tidak boleh dikenakan. Alasannya adalah Kabinet gagal mengumpulkan massa hingga batas waktu yang ditentukan.

Saya hanya bisa tersenyum hampa. Saya tahu hal semacam ini tidak hanya terjadi satu kali. Saya kesal dengan keadaan ini. Lagi-lagi saya tidak merasa bahwa gagalnya aksi ini bukan masalah substansi.

Pada akhirnya saya dan Maryam memilih mundur. Kami berusaha mengejar Shella yang sedang bergegas mengejar kereta menuju pemakaman ayahnya. Beigut kembali ke kampus, saya langsung menuju Lab. Komputer arsitektur dan menulis. Saya berniat menulis di akun pribadi saya pada jejaring sosial.

Tulisan itu saya print 10 kali. Judulnya emosional: “KM-ITB Gagal Aksi”. Saya meninggalkan beberapa lembar di sekretariat IMA-G. Lalu saya langsung menghubungi Pemimpin Umum dan Pemimpin Redaksi Pers Mahasiswa ITB. Tiba-tiba saya punya keinginan menyentil kampus. Tulisan itu disetujui, diedit, dan kemudian dipublikasikan.

Saya lega. Saya merasa telah melakukan sesuatu yang harus saya lakukan.

Ternyata saya belum boleh lega. Twitter @ganecapos dibombardir oleh @SenatorKMPNITB terkait tulisan saya. Ia menuntut hak jawab.

Selasa 1/10/2013

Saya dicari senator IMA-G. Saya dicari Kongres. Akhirnya saya bertemu dengan Kak Adre, Senator AMISCA yang juga Ketua Komisi Pengawasan. Di situ ia menjelaskan semuanya: mengapa saya dipanggil, mengapa Kongres meminta hak jawab, apa yang sebenarnya terjadi, apa yang seharusnya saya lakukan. Saya harus mempublikasikan klarifikasi atas pemberitaan yang telah diterbitkan sebelumnya. Saya memang belum berhasil dalam berita kali ini. Ah, sebenarnya berhasil. Saya berhasil dipanggil Kongres :p


---

Yang pertama,
Dont judge a book from its cover. Saya membantah kalimat tersebut. Kita akan cenderung melihat kemasan dari suatu produk terlebih dahulu. Saya sudah sebutkan sebelumnya, apa yang kita sampaikan sama pentingnya dengan bagaimana kita mengemas dan menyampaikannya. Ini seharusnya bisa menjadi pelajaran. Sudah saatnya kita memanfaatkan media secara benar dan profesional.

Yang kedua,
Saya memilih judul 'KM-ITB Gagal Aksi'. Saya tidak menulis 'Kabinet Gagal Membawa Nama KM-ITB' atau 'Kongres Menolak Aksi Atas Nama KM-ITB'. Siapa yang gagal? Kita semua. Saya setuju dengan yang dibilang oleh Kahim Tambang. 'Ini tamparan bagi Kabinet dan Himpunan' Ini bukan kegagalan satu pihak saja. Banyak asumsi: Kabinet kurang cepat memfollow-up isu, Himpunan tidak tanggap terhadap ajakan Kabinet, Kongres kurang menginformasikan melalui Senator HMJ, Massa apatis akibat kaderisasi yang kurang baik. Itu semua hanya asumsi. Tetapi pada dasarnya kita harus sama-sama memiliki usaha untuk perubahan dan perbaikan.

Yang ketiga,
 Lalu ketika yang misah-misuh hanya Kongres saja, saya jadi semakin bertanya-tanya, "Sebenarnya KM-ITB itu siapa?" Apakah jawabannya Kabinet? Kongres? Massa himpunan? Massa kampus? Orang-orang yang rajin datang forsil? Orang-orang yang ribut di berbagai forum? Seluruh mahasiswa S-1 ITB?
Lalu, siapa?

Yang keempat,
saya belajar bahwa menjadi jurnalis di satu sisi sederhana, dan di sisi lain tidak :)

Sekian dan terima kasih.


Agar lebih bisa dipahami:
Tentang skandal Century, Irfan Nashrullah

Tentang mengapa harus aksi, Okie Fauzi Rachman

Tentang berita "KM-ITB Gagal Aksi", Atika Almira


























Tentang berita Klarifikasi Kongres









You Might Also Like

1 comments

  1. *prok prok prok* mungkin ini cuma bagian kecil kehidupan jurnalis ya teh? Tapi selamat sudah mengukir sejarah berharga haha :D

    ReplyDelete

ayo komen disini :)

Popular Posts