Belajar dari Der Panser dan The Three Lions

3:58 PM

Pertandingan Jerman vs Inggris kemarin buat gw sangatlah seru bukan main. (?) Salah satu alasannya adalah karena gw menonton itu bersama keluarga gw. Berkumpul bersama keluarga memang hal yang menyenangkan, bukan? :3
Terlepas dari hal itu, pertandingan Jerman melawan Inggris memang menarik. Alasan lainnya adalah karena gw suka kedua negara tersebut, karena secara fisik pemain der Panser dan the Three Lions memang enak dilihat. =3= Jadi siapapun yang menang, gw akan tetap bahagia. (?)
Oke, di samping itu, pertandingannya memang berjalan sangat seru. Lima gol tercipta dari kedua tim. Seharusnya 6 gol, tetapi satu gol hasil tendangan Frank Lampard tidak disahkan oleh wasit walaupun sebenarnya melewati garis batas gol. Gw sangat suka pertandingan yang bertabur gol seperti ini. Karena sepak bola yang offensive memang terasa lebih bernyawa.

harianglobal.com
Gol dari Frank Lampard yang tidak disahkan oleh wasit Jorge Larrionda
Dari pertandingan ini, gw rasa ada banyak hal yang bisa kita pelajari. Terutama dari kemenangan Jerman. Menurut Papa sih, timnya Om Loew ini bisa menang murni karena kebodohan Inggris. Tapi kalau kata gw, Jerman memang punya kompetensi sebagai juara yang mereka tunjukin di laga kali ini. Mohon maaf sebelumnya kalau gw sok tahu. Tapi inilah faktor-faktor pendukung kemenangan Jerman yang bisa gw tangkap dari hasil pengamatan gw yang masih awam:
  1. Disiplin terhadap strategi yang telah dibuat. Jerman beruntung punya Loew. Seperti yang kita tahu, pelatih Jerman Joachim Loew adalah pelatih yang rajin mengamati kelebihan dan kekurangan tim lawan. Sehingga dia menjadi pelatih yang piawai dalam menentukan strategi. Dan strategi ini benar-benar diterapkan oleh keseluruhan tim dari awal hingga akhir pertandingan. Sejak unggul 2-1 di babak pertama, Loew sudah bisa memahami Inggris yang bermain terbuka dan selalu berusaha menekan jerman. Situasi ini dapat dimanfaatkan oleh Jerman yang akhirnya bermain bertahan dan mengandalkan serangan balik. Strategi ini terus dipraktekkan hingga akhirnya di babak kedua tercipta 2 gol lagi oleh tim Jerman. Strategi dalam kehidupan sehari-hari bisa kita maknai sebagai rencana. Sedangkan apa yang dilakukan Om Loew bisa kita terjemahkan sebagai mengetahui medan yang akan kita hadapi untuk mencapai tujuan yang kita inginkan. Pelajaran #1: Milikilah rencana hidup yang telah disusun dengan matang setelah kita mempelajari situasi seperti apa yang akan kita hadapi. Dan yang tidak kalah pentingnya, kita harus disiplin dalam menjalankan rencana hidup tersebut agar tujuan yang kita harapkan benar-benar bisa tercapai.
  2. Counter-attack yang cepat. Ya, counter-attack. Serangan balik. Sesuai strategi yang disusun oleh pelatih mereka, Jerman memilih bertahan menghadapi serangan-serangan yang dilancarkan oleh Inggris. Ketika Inggris lengah dan bola sudah dikuasai, lini tengah Jerman bergerak cepat ke arah gawang Inggris dan akhirnya mencetak gol-gol baru. Serangan balik berarti bangkit kembali setelah mendapatkan tekanan. Pelajaran #2 : Lakukan serangan balik sesegera mungkin setelah mendapat tekanan. Segeralah bangkit setelah jatuh karena ditimpa berbagai tekanan, berbagai masalah. Mereka yang lebih cepat bangkitlah yang akan menjadi juaranya.
  3. Keharmonisan dalam tim. Jerman bermain kompak, itu salah satu kuncinya. Di olahraga.kompasiana.com gw menemukan sebuah paragraph yang menarik
Salah satu tulisan yang menarik di artikel ini adalah ketika penulis (atau mungkin narasumber? can’t remember..) menunjukkan foto Per Mertesacker, tidak ada satu pun yang mengenalnya, dan penulis mengatakan bahwa itulah kelebihan tim Jerman, tidak ada yang mengenal satu per satu pemain, tetapi hanya tim Jerman. Mereka adalah tim yang solid.
Sebagian besar pemain Inggris memang pemain bintang, tapi itu tidak ada artinya jika mereka tidak bermain sebagai satu kesatuan. Hasilnya, serangan mereka cenderung tidak terstruktur, amburadul, terburu-buru, asal. Berbeda dengan Jerman yang bermain lebih rapi, sebagai hasil dari kekompakan yang tercipta di dalam tim. Joachim Loew sendiri dikenal sebagai pelatih yang lebih dekat dengan para pemainnya. Hal ini tentu saja mendukung terciptanya keharmonisan dalam tim. Pelajaran #3 : Semua masalah akan sulit dipecahkan oleh satu orang, dan diperlukan kerja sama yang baik dalam sebuah tim untuk menyelesaikan suatu masalah. Dan kerja sama yang baik dapat tercipta ketika terdapat situasi yang harmonis.
duniasoccer.com
Thomas Mueller dan Joachim Loew
  1. Mental juara. Dari ulasan komentator bola di TV setelah pertandingan, gw mendapatkan fakta bahwa Jerman memiliki mental sebagai juara yang lebih baik dari Inggris. Masih dari artikel yang sama seperti di poin no. 3, gw lagi-lagi mengutip bagian yang menarik:
…pemain-pemain sepakbola di Jerman selalu ditempa dalam suasana mental juara. Mereka selalu dipacu untuk memenangkan pertandingan meskipun hanya di level junior sehingga mental juara mereka pun terbangun sejak dini.
Untuk poin yang ini, gw gak terlalu ngerti. Tapi yang gw tahu, Jerman memang terlihat lebih bersemangat dalam melakoni pertandingan kali ini. Dan hasil akhirnya memang sebanding dengan semangat yang mereka tunjukkan. Pelajaran #4 : Milikilah mental sebagai JUARA! You are what you think :)
  1. Komitmen klub-klub Jerman untuk memainkan pemain-pemain muda, memanfaatkan tenaga-tenaga lokal. Ya, mungkin ini memang termasuk faktor eksternal. Tapi punya andil cukup besar dalam perkembangan sepak bola Jerman. Kita semua tahu bahwa pada Piala Dunia kali ini Loew banyak menempatkan pemain-pemain muda seperti Thomas Mueller, Mesut Oezil, Manuel Neuer. Dan hasilnya? Memuaskan! (at least buat gw :p) Ya, Jerman menghargai pemain-pemain muda yang berasal dari negaranya sendiri. Kepercayaan yang diberikan klub-klub tersebut mendukung perkembangan mereka yang akhirnya membantu proses regenerasi pemain di timnas Jerman. Hasilnya, selalu ada bintang-bintang baru. Coba tengok Inggris. Salah satu masalah terbesar Inggris sejak dulu adalah goalkeeper. Dan tidak dapat dipungkiri bahwa minimnya GK asal Inggris yang bermain di Premiere League menjadi salah satu sebabnya. Klub-klub Inggris lebih memilih mendatangkan GK dari negara-negara lain. Menurut gw masalah Indonesia juga serupa. Salah satu alasan tidak majunya sepak bola Indonesia adalah terlalu banyaknya pemain asing di Liga Indonesia sendiri. Alhasil pemain-pemain Indonesia malah tidak banyak yang berkembang. Jadi, poin nomor 5 ini dedikasikan untuk negara gw tercinta, Indonesia. Pelajaran #5 : Suatu negara perlu memberikan kepercayaan kepada tenaga tenaga (muda) lokalnya jika ingin SDM-nya berkembang, dalam bidang apapun. Olah raga, ilmu pengetahuan, teknologi, apapun. Negara harus menghargai segala usaha yang dilakukan warga negaranya dalam mengembangkan bidang-bidang itu sendiri. Jika tidak, potensi yang ada tidak akan tergali dengan baik dan prestasi negara tersebut akan stagnan. Lebih buruk lagi jika SDM yang potensial tersebut akhirnya malah diambil oleh negara lain.
Ya, itu tadi ulasan penuh ke-son-an dari gw. Mudah-mudahan bermanfaat dan kita benar-benar bisa belajar dari kesuksesan der Panser maupun dari kesalahan-kesalahan yang dilakukan the Three Lions.
Tulisan ini akan menjadi tidak berarti jika pelajaran-pelajaran yang ada di dalamnya tidak diaplikasikan oleh penulis maupun pembacanya. Jadi… jangan lupa dukung Jerman di pertandingan quarter final melawan Argentina, karena pelatihnya keren -,-. Ayo kita sama-sama belajar dan mengaplikasikan poin-poin yang ada dalam tulisan ini. Saling mengingatkan, ya ;)

You Might Also Like

3 comments

  1. setuju banget ma yg ini,kak.
    "Keharmonisan dalam tim"
    mantapp euy! kaya bisa telepati gt

    ReplyDelete
  2. Yang counter attack patut diperhatikan tuh

    ReplyDelete
  3. @mbak dina oezil sama mueller udah kompak banget (mereka doang yang diperhatiin LOL)
    @wawi yah, ayo bangkit wi! jerman bisa, kita juga harus bisa hahaha

    ReplyDelete

ayo komen disini :)

Popular Posts