Hari Tersial

8:33 AM

Ngeliat Arin sama Novi ngepost cerpen mereka di blog, gw juga jadi pengen ikutan. Bukan cerpen yang cukup bagus, sangat sederhana, cenderung flat. Tapi di dalamnya tetep ada mimpi-mimpi gw. Silahkan dikritik/diberi saran.


Hari Tersial
Oleh: Atika Almira/04

Berdua dengan Ines, aku melangkah secepat mungkin menuju pintu Munich "Franz Josef Strauss" Airport. Saking terburu-burunya, tadi Ines sampai jatuh terjerembab tak lama setelah kami turun dari taksi. Aku lihat ia kelimpungan membawa barang-barangnya yang terlihat berat dan jumlahnya pun tidak sedikit. Kami berdua mungkin tampak seperti dua orang Melayu yang konyol di tengah orang-orang kulit putih yang menatap kami dengan heran. Kami sudah terlambat, ini akibat ulah Ines yang tidak pernah berusaha untuk menghilangkan kebiasaan buruknya yang ceroboh dan tak tahu waktu. Dan sekarang aku harus ikut menanggung akibatnya menjadi tontonan para bule karena membuat kehebohan di bandara.


Mungkin hari ini hari tersialku selama di Jerman. Selama empat tahun tinggal di Muenchen, aku tak pernah mengalami hal buruk secara berturut-turut seperti hari ini, yang semuanya disebabkan oleh Ines. Tadi pagi aku harus menunggu Ines datang menjemputku di Stadtbibliothek München [1]selama hampir dua jam. Kami berencana membeli oleh-oleh terlebih dahulu sebelum kembali ke Indonesia. Ia baru tiba pukul sebelas pagi, padahal sudah kukatakan bahwa kami cuma punya sedikit waktu untuk belanja. Ditambah lagi Ines meninggalkan dompetnya di hotel yang ia tinggali, sehingga aku harus membayarkan barang-barang yang ia belanjakan. Aku sedikit lega ketika kembali ke flat karena ternyata saat itu masih pukul 3 sore dan kami masih punya cukup waktu untuk packing oleh-oleh yang telah kami beli mengingat batas check-in di bandara masih 5 jam lagi. Tapi sialnya saat berangkat menuju bandara pada pukul 6 sore (karena Ines kembali terlambat datang), aku mendapati salah satu tasku yang berisi beberapa catatan selama kuliah tertinggal di flat. Aku ingat tadi aku meminta Ines membawakannya untukku, namun entah bagaimana ia mungkin tidak menyadarinya. Alhasil kami harus kembali lagi karena catatan itu sangat penting bagiku.



Dan sekarang sudah pukul 8 kurang 15 menit sementara kami masih berada di luar airport. Saat sedang heboh-hebohnya mengejar waktu seperti itu, entah kenapa tiba-tiba Ines berhenti. “Aya, tunggu sebentar.” Ines memanggilku yang tetap melangkah.
Aku membalikkan badan ke arah Ines yang ada di belakangku. “Kenapa lagi, Nes?” tanyaku. Ines sibuk mengaduk-aduk isi tas kecilnya. Sekonyong-konyong perasaanku menjadi tidak enak. “Jangan  bilang lu nyari tiket pesawat,” tuduhku padanya. Ia masih sibuk dengan tasnya sambil bergumam tidak jelas.
“Aduh, Ya, gua lupa tadi nyimpen dimana. Masa ketinggalan ya tiketnya?” ujarnya panik. Aku menghela napas. Lagi-lagi Ines membuatku kepayahan dengan kecerobohannya. Kuakui aku juga salah, telah membiarkannya menyimpan e-ticket kami. Saat aku sedang memperhatikan Ines begitu tiba-tiba tubuhku terdorong ke depan hingga aku hampir terjatuh.
Tepat saat aku menoleh ke belakang seseorang berkata, “Ah, verzeihung!” [2]Melihatku yang berwajah Asia begini ia langsung meralat ucapannya, “Oh, sorry, Miss.” Aku memperhatikan orang yang menabrakku itu, seorang pemuda berwajah kaukasian yang sepertinya memang orang asli Jerman. Ia mengingatkanku pada seorang cowok Bulgaria cinta monyetku semasa SMP yang kutemui di sebuah konferensi remaja internasional.
“Tidak apa-apa,” ujarku dalam bahasa Jerman. Ia sepertinya agak kaget mendengarku berbicara dengan fasih, namun tak lama pemuda itu kembali berjalan lagi. Aku pun mengalihkan pandangan ke Ines.
“Ganteng ya, Ya,” komentar Ines sambil menoleh ke arah pemuda tadi.
Aku berusaha tidak mengindahkan ucapannya dan bertanya, “Tiketnya?”
“Udah ada nih,” jawab Ines sambil menunjukkan selembar kertas.

***

Akhirnya aku bisa bernapas lega karena kami check-in tepat waktu tanpa ada gangguan lagi. Kami sedang mengantri di Burger King saat aku melihat pemuda yang tadi menabrakku berjalan mendekati kami. Ia tersenyum kepadaku saat pandangan kami bertemu, mungkin ia mengenaliku yang ditabraknya tadi. Entah apa sebabnya pemuda itu terkesan sangat ramah, tidak seperti kebanyakan orang Jerman yang individualis.
Ketika aku mengalihkan pandangan, aku melihat Ines membuka-buka dompetnya dan kemudian berbisik kepadaku, “Ya, gua lupa gua gak punya cash.” Aku mematung.
“Nes, jangan bercanda deh,” kataku kesal mengingat sejak tadi aku terus-menerus ketiban sial karena ulahnya. Aku sendiri sudah tidak memegang uang, baik dalam USD, Euro, atau bahkan Rupiah. Kalaupun ada, uang itu tidak akan cukup untuk membayar seluruh pesanan Ines yang cukup banyak karena kami juga harus menyimpan sedikit uang untuk berjaga-jaga. Letak ATM seingatku cukup jauh dari Burger King dan kini kami sudah diburu waktu.
Pramuniaga yang menjaga kasir sepertinya sudah cukup kesal menunggu Ines memberikan uang. Muka Ines mulai pucat karena kami tidak bisa membayar makanan yang sudah dipesan. Wanita yang menjaga kasir itu lama-lama kehilangan kesabaran juga. Ia mulai meninggikan suaranya saat meminta Ines untuk langsung membayar pesanannya. Wanita itu menunjuk-nunjuk antrian yang sudah cukup panjang dan berkata bahwa kami membuat banyak orang mengantri. Aku tak tahu kami harus bagaimana.
Pemuda Jerman tadi yang mengantri tepat di belakangku tiba-tiba bertanya, “Ada apa?”
Aku agak ragu untuk menjelaskan masalah kami yang menurutku cukup memalukan. Tetapi akhirnya kukatakan juga bahwa kami tidak punya uang untuk membayar semua yang sudah kami pesan. Setelah mendengar penjelasanku pemuda itu langsung melangkah ke sebelah Ines dan mengeluarkan dompetnya. Ia membayar semua pesanan kami dan berkata pada Ines dalam bahasa Jerman kalau dia sudah membereskan masalah kami. Ines bengong mendengar kalimatnya karena ia memang hanya menguasai bahasa Inggris dan Prancis. Melihat Ines memasang wajah kebingungan begitu aku pun menjelaskan bahwa sahabatku sejak SMA itu tak mengerti apa yang ia katakan. Pemuda itu langsung menerjemahkan ucapannya ke dalam bahasa Inggris.
Setelah berterima kasih akhirnya aku dan Ines langsung melangkah menuju Gate 4 di Terminal 2, tempat kami harus menunggu untuk bisa naik ke dalam pesawat. Aku sangat lega begitu kami bisa masuk dengan mudah. Menurut e-ticket kami tadi, pesawat akan take off pada pukul 10.15 malam dan sekarang masih pukul 9.45. Akhirnya aku punya waktu untuk beristirahat sejenak.
Sesaat setelah duduk aku menunduk dan mencari hand phone di dalam tas pinggangku. “Aya, itu ada si ganteng yang tadi, Ya.” Ines berkata tiba-tiba. Saat aku mengangkat kepala aku melihat pemuda itu berjalan ke arah kami dan akhirnya duduk berhadapan dengan kami.
“Sekali lagi terima kasih sudah menolong kami,” kataku pada pemuda itu dalam bahasa Jerman. Ines diam saja karena ia memang tak mengerti apa yang kukatakan.
“Ya, anggaplah itu permintaan maaf karena telah menabrakmu tadi,” ujar pemuda itu sambil mengeluarkan burger yang dibelinya dari dalam kantong plastik. “Kalian akan ke Manchester?” Ia mungkin bertanya karena pesawat Singapore Airlines yang akan kami naiki akan mendarat di Inggris terlebih dahulu sebelum bertolak ke Singapura.
Aku menjelaskan bahwa kami akan lanjut ke Singapura dan setelah transit kami akan pulang ke Indonesia. Pemuda itu mengangguk-angguk mendengar ucapanku dan kemudian berkata lagi, “Bahasa Jermanmu bagus. Lama tinggal di Jerman?”
Aku tersenyum mendengar pujiannya. “Empat tahun ini aku kuliah di Technical University of Munich. Arsitektur,” jawabku.
Ia kemudian bertanya lagi dalam bahasa Inggris, kali ini kepada Ines. “Aku yakin kau tidak kuliah di Jerman seperti temanmu ini. Benar kan?”
“Ya. Aku mengambil short-course di pusat kebudayaan di Prancis dan baru beberapa hari ini aku menghabiskan waktu untuk berjalan-jalan di Muenchen. Itu sebabnya aku hanya bisa memasang tampang seperti orang bodoh jika kalian berbicara dalam bahasa Jerman,” jelas Ines jenaka yang membuat pemuda itu tertawa mendengar ucapannya. Setelahnya kami terlibat percakapan seru mengenai berbagai macam hal. Pemuda itu, yang mengaku bernama Sebastian, juga bercerita bahwa ia kembali ke Manchester untuk menyelesaikan kuliah S-2-nya di University of Manchester yang sempat terbengkalai karena orang tuanya di Jerman sering sakit-sakitan.
Tak lama kemudian sebuah suara yang meminta kami untuk naik ke pesawat terdengar dari speaker. Kami pun beranjak dari bangku yang kami duduki dan keluar dari ruang tunggu. Saat tiba di pesawat aku dan Ines mendapat kejutan karena ternyata seat Sebastian berada tepat di samping kami. Aku dan Ines duduk di 6B dan 6C sementara Sebastian duduk di seat 6D.
Aku menarik napas panjang saat sudah bisa duduk di dalam pesawat, berharap lelahku bisa ikut terbawa udara yang kuhembuskan. “Gila, Nes. Capek banget gua hari ini,” keluhku pada Ines. “Semua gara-gara lo nih, Nes.”
Ines merengut disalahkan begitu. Tapi tiba-tiba saja ekspresinya langsung berubah lagi. “Eh, harusnya lu bilang makasih ke gua, Ya,” sangkalnya dengan nada ceria. “Kalau gua gak bikin masalah kan belum tentu kita bisa kenalan sama cowok itu.” Ines mengarahkan kepalanya ke samping, ke tempat dimana Sebastian duduk. Kulihat Sebastian sedang fokus pada iPod-nya sehingga sepertinya ia tidak akan bisa mendengarkan percakapan kami.
Aku tersenyum sambil merenungi perkataan Ines. Yah, toh hari ini aku tidak sepenuhnya sial. Memang benar apa kata orang, semua hal pasti ada sisi positifnya, batinku. Lelah akhirnya membuatku memejamkan mata bersamaan dengan pesawat yang mulai mengudara.



[1] Perpustakaan kota Muenchen
[2] Ah, Maaf! (Jerman)

You Might Also Like

4 comments

ayo komen disini :)

Popular Posts