OSKM 2012 : Another Point of View

6:13 AM

Orientasi Studi Keluarga Mahasiswa ITB 2012. Gw baru saja menjalaninya dan sama sekali tidak bermaksud menceritakan rangkaian kegiatannya di sini. Toh orang-orang yang perlu mengetahuinya sudah merasakannya, dan yang akan perlu mengetahuinya akan merasakannya :)

Dan tak lama setelahnya, ada Integrated Training 2012. (Meriam Baja yang diundang tahun depan, awas kalau gak ikut. #ancaman) Dalam satu sesi seorang pembicara berujar
Akan ada banyak perbedaan antara kehidupan SMA dan perkuliahan.
Dalam hati gw mengiyakan karena memang ada satu hal yang mengusik gw beberapa hari terakhir. Berbeda, dan itu nyata. Tidak percaya?
Ketika dulu saat pertanyaan diajukan tidak ada yang mengangkat tangan, sampai harus ada sebutan patung dan analogi-analogi sejenisnya
Ketika dulu sesi-sesi harus diakhiri lebih awal karena tak ada yang ingin mengajukan pertanyaan
Ketika dulu sulit rasanya mencari orang untuk mengisi suatu posisi karena yang lainnya apatis
Ketika dulu sedikit yang bersikap acuh saat diminta menanggapi
Ketika...
Ya, itu yang gw lihat dan rasakan sendiri selama 3 tahun terakhir. Tapi dalam 5 hari itu...
Manusia berlomba mengangkat tangannya tinggi-tinggi, bahkan menggoyangnya, berdiri, berlarian, berteriak, mengepung pihak lain untuk sebuah kesempatan mengajukan pertanyaan. Padahal terkadang, sorry to say, bukan sesuatu yang cukup penting untuk ditanyakan
Manusia lagi-lagi berlomba mengangkat tangannya tinggi-tinggi, seakan tidak bergeming adalah sebuah dosa
Kelebihan SDM, sampai rasanya takut mengubur semangat dari mereka-mereka yang inginnya tak dikabulkan
Manusia berebut mengeluarkan suara, lama-lama serupa koor yang saling bersahutan, kebanyakan tak mau berhenti untuk sekedar menikmati kicauan yang lain 
Sudah melihat dari kaca mata gw? Entah, mungkin saja gw yang terlalu berlebihan menanggapi hal ini. Atau memang sebutan "putra-putri terbaik bangsa" itu terlalu melambungkan sampai semuanya ingin muncul ke permukaan? Atau memang sebutan "para calon pemimpin global" terlalu menjanjikan sampai semuanya ingin merealisasikan saat itu juga?

Sangat menggelitik saat gw baca linimasa seorang kawan baru, Luthfi Muhammad Iqbal atau Obe,
"Kenapa ada pelatihan kepemimpinan tapi tak ada pelatihan dipimpin?"
"Kenapa ada pelatihan public speaking tapi tak ada pelatihan public hearing?"
Menjadi sebuah kekhawatiran, bahwa nantinya manusia-manusia itu memendam ingin yang sama. Bahwa semua ingin berujar, tapi tak ada yang mau dengar. Bahwa semua ingin memimpin, tapi tak ada yang mau dipimpin. Bahwa nantinya mereka menuju titik yang sama, dan pada akhirnya saling sikut, saling terjang, saling melukai, dan menjadi penghancur, bukan penolong. Sayangnya, gw juga bagian dari mereka yang dikhawatirkan itu.

Bukankah kita diciptakan dengan dua mata, dua telinga, dan hanya satu mulut; untuk dapat melihat dan mendengar sekitar terlebih dahulu, mencerna dengan hati dan akal, baru berujar memberi pendapat dan perintah? Bukankah kita juga diciptakan dengan dua tangan dan kaki? Untuk berbuat banyak terlebih dahulu, bergerak, sebelum menyampaikan? 

Semoga kita semua selalu diberi hidayah oleh-Nya, diberi kesempatan untuk senantiasa meluruskan niat. "Jika bukan karena-Mu, ya Allah, jangan biarkan diri ini melangkah." Semoga ada jalannya, untuk bersama menjadi rahmatan lil 'alamin, bukan 'destroyer' lil 'alamin.

Dalam sebuah sharing dengan ibunda...
"Iya, katanya malah orang-orang ITB yang ngancurin negara kita karena saling sikut di atasnya."
Sebuah kalimat dengan 'katanya' memang terkadang tak cukup pantas dihiraukan. Namun rasanya kita pantas mendoa dan mengusahakan agar di arsy-Nya nama kita tak tertulis sebagai bagian dari golongan itu. Aamiin ya rabbal 'alamin. 

Mohon maaf jika ada yang tersinggung, karena sesungguhnya celotehan ini juga terguran bagi gw sendiri :) 

You Might Also Like

3 comments

  1. Hai Teh Tika, apakabar? Asik euy maba ITB. Doain saya 2014 ada disana ya Teh.

    Interesting story, and I take my hat off for your courage to tell us what you think, since I don't have one to do so. Saya ngalamin kejadian serupa pas kemarin orientasi pra-keberangkatan. Garis besarnya sama, persis malah, cuma waktu, tanggal, tempat, situasi dan orang-orang yang berbeda.

    Yang saya nggak habis pikir, setelah semuanya dikeluarin; ide, opini, argumen, saran, kritik; follow-upnya apa? Aksi-reaksi itu harus berkesinambungan kan. Kalau cuma ada aksi, ya nggak bakal ada hasilnya.

    Well semoga kita dianugerahi mulut yang berbicara setelah telinga mendengar ya Teh. Salam dari Utara Amerika Serikat :-)

    ReplyDelete
  2. Rasanya bisa membayangkan, walaupun entah persis atau tidak :) Ya, benar. Gak ada gunanya kalau cuma untuk menunjukkan ego masing-masing; bener banget tentang aksi-reaksi itu. Aamiin, semoga doamu --yang sudah jadi doaku- bisa terkabul ya.

    Selamat berjuang di Utara Amerika Serikat, dan sekembalinya dari sana :) Salam buat Bucat, Mauli, Nabila Sekartanti, dan Miqdad Darmawan. Hope those last two still remember me, orang yang iri sama kalian :') Ayo manfaatin kesempatan ini sebaik-baiknya!

    ReplyDelete

ayo komen disini :)

Popular Posts