Hipokrit

12:36 PM

Menempuh 200 km 'hanya' untuk 'sekadar' menyebutkan nama dan jabatan, menempuh 3 jam lebih 'hanya' untuk 15 menit tatap muka; 'membuang' akhir minggu yang berharga 'hanya' untuk meneriakkan satu kalimat dengan habis-habisan.


Mungkin jika tidak melihat dari kacamata yang sama, kata 'hanya', 'sekadar', dan 'membuang' akan tetap ada di sana. Tapi pada mata mereka yang pulang kemarin, yang tercetus bukanlah itu. Lima belas menit yang kita punya bersama memang sebegitu berharganya. Semoga memang ada semangat dan cinta yang tersampaikan dari sana. Ya, semoga.

Terlebih lagi, bagi gw sendiri pulang ke Bogor bukan sekadar 'hanya', ataupun 'membuang'. Entah bagaimana, takdir membuat gw harus menjadi tim medik dadakan saat adik-adik kelas gw mengikuti suatu lomba. Kalau saja gw tidak ada saat itu, mereka sudah didiskualifikasi karena tidak memenuhi persyaratan. Bukan gw titik fokusnya, melainkan sebegitu tidak adanya SDM yang bisa dikerahkan hanya untuk menjadi tim medik (tugasnya cuma mengikuti tim peserta dari belakang selama satu jam).

***

Itu tadi baru lead-nya. Izinkan gw memulai lagi inti masalahnya.
"Kalau begini caranya sih, gak perlu 3 bulan segala. Bapak bikin aja satu bulan sekalian. Kalau perlu gak usah ada"
Itu tadi komentar sang pembina yang sudah sangat kesal dengan kejadian di atas. Selama 1 jam kami mendampingi mereka yang berlomba, Bapak ini terus bercerita; bagaimana ia sudah menghubungi angkatan sebelumnya, sejak 7.30 dan bahkan baru dijawab pukul 8.30 yang intinya tidak ada yang bisa hadir (jika boleh gw sebut tidak ada yang mau); bagaimana sang kadiv humas meneleponnya dan langsung ia semprot habis-habisan; dan bagaimana sia-sianya regenerasi (yang disebut si gajah sebagai kaderisasi).

Ya, gw setuju dengan Bapak ini, salah satu guru yang sangat gw hormati dan sangat gw sayangi semasa SMA. 

Apa gunanya nilai-nilai ditransfer tanpa diterapkan? Apa gunanya berkoar-koar tentang tanggung jawab, disiplin, kekeluargaan, kebersamaan, dan segala tetek bengek lainnya tetapi tidak ada implementasinya? Apa perlunya kumpul pagi-sore, membantai malam-malam dengan hujatan dan ceramah tapi memberikan keteladanan pun tidak mampu? Apa perlunya jika itu semua hanya menjadi bagian dari tradisi tanpa mengembalikan substansinya, esensinya?

KBBI bilang, itu hipokrit: 1 a munafik; 2 n orang yg suka berpura-pura. Wajar rasanya jika guru-guru tak lagi memberikan kepercayaan. Tak lagi aneh jika suatu prosesi yang kita anggap sebagai ajang penanaman nilai dilihat sebagai perploncoan semata oleh para orang tua. Karena ternyata orang-orang yang mereka hadapi adalah para hipokrit.

Mungkin teman-teman yang membaca ini bisa mengelak, "Mungkin kami memang begini, kami hanya ingin mereka bisa menjadi lebih baik lagi dari kami." Omong kosong :) Sejak kapan ucapan semata bisa menyaingi perbuatan?

* Jika ingin menyuruh untuk kompak, buatlah mereka yang menyuruh untuk kompak terlebih dahulu. Jika bertutur tentang tanggung jawab, pastikan bahwa itu bukan hanya kicauan belaka. Jika bicara tentang kekeluargaan, yakinkan dulu bahwa yang mengatakannya memang sudah merasa satu keluarga. Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Bukan mendidik namanya jika tujuan kita hanya menyampaikan, tanpa mengusahakan lebih dari itu.

Gw bukan ingin menjatuhkan segelintir orang karena kasus kecil di atas. Ini sebuah gejala yang terjadi di mana-mana. Seusai mengalami sebuah kaderisasi massal baru-baru ini, seorang teman pun berkata kepada gw, "Rasanya hipokrit ya, gw gak yakin semua yang disampein tadi benar-benar diterapkan."

Ada sebuah proses di balik kaderisasi itu. Tujuannya untuk menjawab paragraf bertanda (*) di atas. Tapi lagi-lagi menurut gw namanya akan tetap hiprokrit kalau bersifat insidentil. Nilai-nilai itu harusnya mengakar, diterapkan di setiap denyut pergerakan. Seharusnya begitu. Tapi nyatanya...? Silahkan dijawab sendiri.

Lalu sudahkah kita siap untuk memberi jika kita pun tidak pernah diisi? Apa yang mau dibagi jika kita pun tidak mengerti? Sudah menjadi tugas kita untuk senantiasa belajar, dan ikhtiar dalam menerapkannya. Karena sebaik-baik ilmu adalah yang diamalkan.

***

Semoga tadi malam itu bukan sekadar tradisi. Ya, semoga. Sampai bertemu tahun depan, dengan mengedepankan substansi, bukan budaya basi :)

You Might Also Like

0 comments

ayo komen disini :)

Popular Posts